RSS
Facebook
Twitter

Tuesday, December 11, 2012

Pembentukan Kelompok, Peran, Norma, dan Struktur Kelompok




Kita sebagai manusia merupakan makhluk sosial yang melihat pentingnya berkelompok. Secara alamiah, manusia tidak dapat hidup sendiri. Dalam memenuhi kebutuhannya pun manusia tidak jauh dari interaksi dengan manusia lain yang ada disekelilingnya. Dengan demikian, hampir seluruh waktu kita habiskan untuk berinteraksi, dididik, belajar serta bermain dalam kelompok. Kelompok terbentuk karena adanya dua orang atau lebih yang memiliki kontak untuk mencapai tujuan. Kelompok memiliki tujuan yang hendak dicapai. Tujuan kelompok adalah suatu keadaan di masa mendatang yang diinginkan oleh anggota kelompok. Oleh sebab itu masing-masing anggota melakukan berbagai tugas kelompok. 
Ivan Steiner (dalam Forsyth, 1983) memandang dinamika kelompok  melalui dua perspektif, sosiologi dan psikologi. Sosiologi menekankan pada kelompok dan pengaruh pada kelompok tersebut. Sedangkan psikologi memandang individu sebagai diri yang unik. Keunikan ini terlihat dari cara berpikir, emosi, dan sikap pada kelompok. Durkheim (dalam Forsyth, 1983) lebih berfokus pada hubungan interpersonal pada primary groups. Sedangkan Gustav Le Bon (dalam Forsyth, 1983) lebih memfokuskan pada dinamika individu pada kelompok. Pada akhirnya, dinamika kelompok tidak hanya dimiliki oleh satu disiplin ilmu saja. Keduanya mampu menjadikan dinamika kelompok sebagai sub bab yang tidak terpisahkan.
Menurut Johnson & Johnson (2000) kelompok terbentuk karena suatu alasan. Orang masuk ke dalam suatu kelompok untuk mencapai tujuan yang tidak dapat dicapai sendirian. Pengertian kelompok sendiri dapat dilihat dari beberapa sudut pandang, diantaranya pengertian kelompok berdasarkan :

·         Persepsi
Anggota kelompok diterima sebagai anggota kelompok dengan menekankan kriteria atau ukuran tertentu. Smith (dalam Johnson & Johnson, 2000) memandang perlunya suatu tindakan penyatuan dari masing-masing anggota terhadap kelompoknya. Pembagian kelompok diharapkan mempunyai kemampuan yang berimbang, sehingga apabila ada anggota yang mempunyai tingkat intelegensi tinggi mampu menginduksi anggota yang lain, sehingga tidak terjadi ketimpangan.
·         Motivasi
Pandangan ini terjadi karena para ahli mengamati adanya individu-individu yang bergabung dalam satu kelompok, dan mereka merasa yakin bahwa dengan bergabung dengan kelompok tersebut, maka kebutuhan yang ada pada dirinya terpenuhi. Menurut Cattel (dalam Johnson & Johnson, 2000) kelompok adalah kumpulan individu yang dalam hubungannya dapat memuaskan kebutuhan satu dengan yang lainnya.
·         Tujuan
Mills (Johnson & Johnson, 2000) menyatakan bahwa kelompok memiliki definisi, sebagai kelompok kecil yang terdiri dari dua atau lebih dalam sebuah hubungan untuk sebuah tujuan dan menganggap bahwa hubungan atau interaksi yang terjadi mempunyai makna. Setiap kelompok memiliki tujuan yang hendak dicapai.
·         Organisasi
Johnson (2000)  menjelaskan bahwa kelompok adalah suatu sistem yang diorganisasikan pada dua orang atau lebih yang dihubungkan satu dengan lainnya yang menunjukkan fungsi yang sama, memiliki standar peran dalam berhubungan antar anggota dan memiliki norma yang mengatur fungsi kelompok dan setiap anggotanya.
·         Interdependensi
Pengertian kelompik dapat dilihat dari aspek saling ketergantungan (interdependensi). Cartwright dan Zender (dalam Johnson & Johnson, 2000) memaparkan bahwa kelompok adalah sekumpulan individu yang melakukan hubungan dengan orang lain (sesama anggota) yang menunjukkan saling ketergantungan yang cukup signifikan.
·         Interaksi
Interaksi atau hubungan timbal balik merupakan komponen yang penting dalam kelompok, karena dengan hubungan timbal balik tersebut akan ada proses memberi dan menerima informasi antar anggota kelompok (kebutuhan akan informasi terpenuhi). Berdasarkan pengertian tersebut, dapat dikatakan bahwa kelompok adalah sekumpulan orang yang terdiri dari dua atau lebih individu yang melakukan interaksi satu dengan yang lainnya yang dapat mempengaruhi pada setiap anggotanya.
Setelah memahami pengertian kelompok dari berbagai sudut pandang, maka dapat melihat bagaimana pembentukan kelompok terjadi. Pembentukan kelompok merupakan salah satu awal dari individu untuk berinteraksi dengan sesamanya. Adapun tahap-tahap yang perlu diperhatikan dalam pembentukan kelompok yang pertama kali diajukan oleh Bruce Tackman pada 1965. Teori ini memfokuskan pada cara suatu kelompok menghadapi suatu tugas mulai dari awal pembentukan kelompok hingga proyek selesai. Tahap pembentukan kelompok Tuckman dapat dilihat sebagai berikut:

Definisi
Contoh
Forming
Kelompok baru saja dibentuk dan diberikan tugas. Anggota kelompok masih cenderung untuk bekerja sendiri dan masih belum saling mengenal sehingga belum bisa saling percaya.
Ketika ospek, para mahasiswa seangkatan belum saling mengenal sehingga mereka berkenalan
Storming
kelompok sudah mulai mengembangkan ide-ide yang berhubungan dengan tugas yang mereka hadapi. Sehingga konflik kemungkinan akan muncul.
Mencari jalan keluar untuk menyelesaikan permainan yang menjadi tantangan, beberapa anggota telah mulai berani mengungkapkan pendapat. Kemungkinan akan terajadi beda pendapat dan konflik muncul.

Norming
Kelompok mulai menemukan kesesuaian dengan kesepakatan yang mereka buat mengenai aturan-aturan dan nilai-nilai yang digunakan.
kelompok mahasiswa ospek tersebut mulai saling menentukan jalan keluar mana yang mereka pilih untuk menyelesaikan permainan
Performing
Kelompok dapat berfungsi dalam menyelesaikan pekerjaan atau tugas dengan lancar.
Kelompok mahasiswa ospek yang telah menentukan peraturan dan fungsi anggota memulai mengerjakan permainan sesuai dengan tugas yang telah disepakati.
Adjourning
Tugas atau pekerjaan berakhir dan kelompok membubarkan diri.

kelompok mahasiswa ospek telah menyelesaikan permainan dan ospek telah berakhir.



1.      Tahap 1 – Forming
Pada tahap ini, kelompok baru saja dibentuk dan diberikan tugas. Anggota kelompok masih cenderung untuk bekerja sendiri dan masih belum saling mengenal dan belum bisa saling percaya. Waktu banyak dihabiskan untuk merencanakan, mengumpulkan informasi dan mendekatkan diri satu sama lain.
Contoh: dalam suatu acara ospek, para mahasiswa seangkatan belum saling mengenal antara mahasiswa satu dengan yang lain, ketika dibagi kedalam suatu kelompok-kelompok kecil, setiap mahasiswa melakukan suatu perkenalan dan saling menanyakan identitas teman sekelompok.
2.      Tahap 2 – Storming
Pada tahap ini kelompok sudah mulai mengembangkan ide-ide berhubungan dengan tugas yang mereka hadapi. Anggota kelompok saling terbuka dan mengeluarkan ide-ide dan perspektif mereka masing-masing. Sehingga kemungkinan tejadinya konflik.
Contoh : Kelompok kecil mahasiswa ospek yang telah saling mengenal tersebut dihadapkan pada suatu permainan kelompok. Ketika mencari jalan keluar untuk menyelesaikan permainan tersebut, beberapa anggota telah mulai berani mengungkapkan pendapat. Pendapat yang bervariasi memungkinkan terjadinya konflik.
3.      Tahap 3 – Norming
Pada tahap ini sudah terdapat kesepakatan antara anggota kelompok. Kelompok mulai menemukan kesesuaian dengan kesepakatan yang mereka buat mengenai aturan-aturan dan nilai-nilai yang digunakan. Pada tahap ini, anggota kelompok mulai dapat mempercayai satu sama lain seiring dengan melihat kontribusi penting masing-masing anggota untuk kelompok.
Contoh: kelompok mahasiswa ospek tersebut mulai saling menentukan jalan keluar mana yang mereka pilih untuk menyelesaikan permainan. Mereka membuat suatu kesepakatan seperti menentukan siapa yang harus memimpin permainan dan siapa yang bekerja menyelesaikan tugas permainan.
4.      Tahap 4 – Performing
Pada tahap ini, kelompok dapat berfungsi dalam menyelesaikan pekerjaan atau tugas dengan lancar dan efektif. Anggota kelompok saling tergantung satu sama lain dan mereka saling respek dalam berkomunikasi.
Contoh: Kelompok mahasiswa ospek yang telah menentukan peraturan dan fungsi anggota memulai mengerjakan permainan sesuai dengan tugas yang telah disepakati.
5.      Tahap 5 – Adjourning
Ini adalah tahap terakhir dalam kelompok dimana proyek tugas atau pekerjaan berakhir dan kelompok membubarkan diri.
Contoh: kelompok mahasiswa ospek telah menyelesaikan permainan dan ospek telah berakhir. Sehingga mereka membubarkan kelompok mereka.
Dalam sebuah kelompok terdapat struktur yang membentuk perilaku anggotanya dan memungkinkan untuk menjelaskan sebagian perilaku individu di dalam kelompok maupun kinerja kelompok itu sendiri. Struktur kelompok terdiri dari:

Definisi
Contoh
Peran
Harapan dalam menjelaskan tindakan yang layak dari seorang anggota dalam suatu posisi terhadap posisi lain yang berhubungan.
ketua, wakil ketua, sekertaris
Norma
Kepercayaan umum berdasarkan kelayakan, sikap, pandangan anggota kelompok, peran, tersirat atau tidak, yang mengatur anggota kelompok
Kedisiplinan, saling menghargai, bertanggung jawab

a.      Norma
Norma merupakan standar perilaku yang dapat diterima yang digunakan bersama oleh para anggota kelompok. Norma memberitahukan kepada anggota apa yang seharusnya dan apa yang tidak seharusnya dilakukan. Norma sebagai elemen dasar dalam struktur kelompok sebagai arahan dan motivasi,, pengatur interaksi sosial, serta membuat tanggapan orang lain tersebut dapat diprediksi dan bermakna. Johnson  dan Johnson (2000) menyatakan bahwa norma sebagai keyakinan umum dalam kelompok mengenai perilaku, sikap serta persepsi yang sesuai. Adapun 2 bentuk norma yaitu norma deskriptif dan norma perspektif dimana yang artinya sebagai berikut:

·         Norma deskriptif merupakan apa yang sering dilakukan, dirasakan, serta dipikirkan oleh orang ketika sedang berada dalam suatu situasi tertentu. Contoh: ketika di jalan tol ada himbauan bagi kendaraan yang berjalan lambat untuk berjalan di bahu kiri dan bagi kendaraan yang ingin mendahului dan melaju cepat untuk berjalan di lajur kanan.
·         Sedangkan norma perspektif yang lebih evaluatif, menjelaskan apa yang harus dan tidak boleh dilakukan oleh individu pada situasi tertentu, dan jika ada yang melanggar akan dinilai negatif. Contoh: perintah membayar pajak untuk para wajib pajak, bagi yang tidak mematuhi akan dikenai sanksi.

Kelompok kadang mengadopsi norma sebagai aturan kelompok mereka, tetapi norma-norma kebanyakan muncul secara bertahap karena anggota kelompok mencoba menyelaraskan perilaku mereka sampai mereka sesuai dengan standar tertentu. Dalam proses perkembangan norma, ada seorang peneliti bernama Muzafer Sherif (Forsyth, 1983) yang mencerminkan bagaimana orang-orang dalam kelompok dari waktu ke waktu datang untuk mengembangkan standar yang berfungsi sebagai kerangka acuan bagi perilaku dan persepsi. Sherif mempelajari perkembangan norma dengan mengambil keuntungan dari gerak refleks. Dalam penelitiannya, Sherif menemukan bahwa individu cenderung mengambil keputusan itu sendiri. Akan tetapi ketika individu tersebut telah berada dalam sebuah kelompok, pada sesi pertama dalam kelompok, individu tersebut mulai mempertimbangkan keputusan lain dari anggota kelompok lainnya. Selanjutnya, keputusan individu tersebut menjadi satu keputusan kelompok. Proses bersatunya keputusan menjadi satu keputusan dalam kelompok oleh Sherif disebut sebagai funnel pattern atau motif corong. Menurut Sherif, norma berkembang karena adanya interaksi antar anggota kelompok tersebut.
            Sherif menyimpulkan bahwa norma-norma baru berkembang dalam kelompok bila konteksnya menyediakan sedikit informasi untuk menuntun tindakan atau untuk memungkinkan anggota untuk menyusun keyakinan. Menurut Kelman (dalam Forsyth, 1983) mereka yang mematuhi norma kelompok bahkan ketika tidak ada tekanan eksternal untuk melakukannya, menunjukkan bahwa mereka secara pribadi menerima standar tersebut sebagai milik mereka. Kelompok juga menginternalisasikan norma yang ada pada kelompok mereka dengan cara menerima norma tersebut sebagai standar yang pasti bagi perilaku mereka.


b.      Peran
Dalam suatu kelompok masing-masing anggota tentu tidak melakukan hal yang sama dalam mencapai tujuan. Setiap anggota memiliki tugas dan fungsi yang berbeda sesuai dengan harapan. Dengan kata lain, anggota kelompok yang berbeda tentu akan memainkan peran yang berbeda. Contoh: tugas dan tanggung jawab seorang direktur adalah memimpin perusahaan. Tugas karyawan adalah mengikuti perintah atasannya.

Role differentiation
Terkadang masyarakat sengaja menciptakan perannya. Hal ini ditunjukkan dalam kelompok untuk memperjelas eksistensi mereka. Tidak hanya formal group structure yang dibentuk, namun kelompok juga akan  kemungkinan membentuk informal group structure. Hal ini mengidentifikasikan peran dari masing-masing anggota kelompok yang bervariasi.
Forsyth (1983) menyatakan bahwa role differentiation adalah perbedaan peran dalam suatu kelompok, misal  menjadi pemimpin, pengikut, atau pengeluh. Dalam suatu kelompok tentulah tidak akan memiliki peran yang sama pada anggotanya. Ada yang berperan sebagai pemimpin sehingga dituntut untuk optimis. Meskipun bukan menjadi jaminan bahwa dengan status tertentu, setiap anggota di asosiakan dengan sifat terrtentu.

Type of roles
Benne dan Sheats (dalam Forsyth, 1983) membagi peran atas:
·         Task role: anggota kelompok yang melakukan tugasnya untuk mencapai tujuan tertentu pada kelompok tersebut. Misalnya sebagai coordinator, elaborator, energizer, evaluatorcritic, information giver, information seeker, dan opinion seeker.
·         Sociemotional role: Posisi anggota dalam kelompok untuk mendukung perilaku interpersonal secara akomodatif. Misalnya compromiser, encourager, follower, dan harmonizer.
·         Individual role : peran  individu yang tidak berkontribusi dengan besar, namun tetap dibutuhkan perannya sebagai penopang kebutuhan kelompok. Misalnya aggressor, block, dominator, dan help seeker.

Terdapat perbedaan dengan ketiganya karena setiap anggota akan tidak mudah untuk mencapai task role dan sociemotional role secara bersamaan. Masing-masing telah memiliki spesifikasinya sendiri. Spesifikasi tugas cenderung untuk mendapatkan pertanyaan lagi, menampilkan ketegangan, antagonisme, dan perselisihan. Sedangkan spesifikasi sosioemosional menerima demostrasi dari solidaritas, pengurangan ketegangan, dan solusi dari masalah. Namun bukan berarti anggota kelompok tidak mampu menjalankan sekaligus. Bahkan ketika anggota kelompok melakukan keduanya, maka peran mereka akan menjadi lebih efektif.

Role stress
Peran tidaklah semudah yang dibayangkan. Kadang terdapat benturan sehingga menimbulkan konflik dengan anggota kelompok yang lain. Ketika hal ini terjadi peran mereka menjadi kompleks.
·                     Role ambiguity : ekspektasi yang tidak jelas tentang perilaku yang akan dilakukan oleh individu yang menempati posisi dalam kelompok. Sehingga ketika hal ini dirasakan oleh seseorang, maka dia akan kebingungan harus berperan seperti apa dalam kelompok tersebut.
·                     Role conflict : Konflik yang terjadi secara intragroup dan intraindividual yang merupakan hasil dari ketidakcocokan peran. Misalnya ketika seseorang mengalami pergolakan dengan perannya sendiri akibat dari peran oranglain yang tidak sesuai sehingga mengacaukan perannya sendiri. Hal inilah yang dinamakan intrarole conflict. Namun apabila ketidakcocokan antara dua peran sekaligus hal ini dinamakan interrole conflict.
·                     Role conflict group performance: konflik dari peran yang terjadi pada anggota cenderung mengakibatkan konflik pada performa kelompok. Apabila hal ini terjadi maka keberlangsungan kelompok secara tidak langsung akan terancam.

PUSTAKA ACUAN

Forsyth, D.R. (1983). An introduction to group dynamics. California:Brooks/Cole Publishing Company.
Johnson, D.W. & F. P. Johnson. (2003). Joining together: Group theory and group skill, fourth edition.

0 comments:

Post a Comment

  • Categories

  • Unordered List

  • Editor-in-Chief

    the webmistress designer: Dewi Content: Pur Riska Rika Jun Dewi Grace Gloria Reza